Gaya Hidup Digital di Era Revolusi Industri 4.0

Sudah semestinya kita sadari, bahwa teknologi digital saat ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup manusia modern, tak terkecuali bagi anak-anak hingga kakek nenek.

Seolah-olah kita semua terdorong untuk menjadi bagian dari gaya hidup digital yang kian mewabah, kalau tidak ya bakalan tertinggal kereta jauuuuh banget.

Dimulai dari mulai maraknya penggunaan internet, tersedianya gadget dan teknologi pendukung yang bisa menunjang aktivitas keseharian kita, hingga pola komunikasi yang memungkinkan manusia terhubung satu sama lain secara real time di berbagai belahan dunia.

Ehm, saya masih ingat, semasa SMA dulu, masih jarang sekali anak sekolah yang membawa HP, dan hanya anak yang orang tuanya cukup tajir yang bisa menentengnya, sedangkan yang lain hanya bisa berdecak kagum dan gumun melihatnya.

Hhehehee…

Kebalikan dengan jaman sekarang, anak SD saja sudah banyak yang pegang aneka macam gadget.

Ya smartphone lah, tablet pc lah, dan lain sebagainya.

Apalagi karena memang harga-harga perangkat mobile tersebut sudah cukup terjangkau saat ini.

Beda dengan jaman dulu, harus merogoh kocek dalam jumlah yang cukup banyak, dan juga masih sangat terbatas ketersediaannya.

Jadi sekarang tidak perlu kaget, kalau ada orang yang bisa punya lebih dari satu handphone untuk kebutuhannya sendiri.

Satu untuk urusan kantor, bisnis, usaha, dan satunya lagi untuk personal. Boleh boleh aja to??

Oke, mungkin tidak perlu kita perpanjang pembahasan mengapa orang bisa punya banyak perangkat mobile, karena bisa 1001 satu alasan kenapa-kenapanya.

Yang jelas, ada beberapa hal yang perlu kita cermati atau kita pertanyakan kepada diri sendiri, yakni:

Perlukan kita abaikan gaya hidup digital di era jaman now ini, atau haruskah kita mengikutinya?

Sebelum Anda menjawab pertanyaan di atas, simak beberapa hal menarik berikut:

  • Diproyeksikan bahwa akan ada lebih dari 64 miliar perangkat IoT pada 2025, naik dari sekitar 10 miliar pada 2018. — (sumber, BusinessInsider.com)
  • Terdapat peningkatan market share penjualan produk ritel global via internet, yakni 7,5% di tahun 2015 dan 11,9% di tahun 2018. — (sumber, Statista.com)
  • Pergeseran pola berkomunikasi orang-orang saat ini lebih banyak terjadi melalui aplikasi social chat seperti WhatsApp, Line, dan Telegram, serta aplikasi seperti Facebook dan Instagram, maupun aplikasi social media lainnya, ketimbang menggunakan telepon manual dan SMS.

Dan faktanya, The Internet of Things (IOT) yang artinya barang maupun produk yang tersambung dengan internet, yang kini bisa menghubungkan berbagai macam perangkat ke dalam satu lingkaran besar, disebut-sebut sebagai awal dari revolusi industri 4.0, setelah masa kejayaan era revolusi industri 3.0 sebelumnya, yakni kemajuan teknologi informasi (komputer dan robotik).

Nah, setelah mencermati beberapa hal menarik tersebut, setidaknya ada dua pilihan yang bisa kita lakukan.

Pertama, mengabaikan fenomena pergeseran jaman yang sedang terjadi, dan menikmati sisa-sisa tenaga yang kita miliki, hingga akhirnya nanti tergerus oleh zaman.

Kedua, tetap bijak mengikut perkembangan yang ada, seraya belajar memanfaatkan teknologi yang ada, dan menjadi saksi hidup atas pergerakan revolusi yang sedang terjadi.

Pilihan ada di tangan Anda.

Leave a comment

Tinggalkan balasan